malino-055.jpg

Liburan ke Malang dan Bromo

August 1, 2015 0Bus Pariwisata

Kota Malang menjadi saksi kami liburan bareng berempat. Sedangkan Bromo menjadi saksi betapa kuat fisik dua orang perempuan yang turun ke lapangan mencari berita sejak kemunculan film Pengantin Remadja.

Kota Malang menjadi saksi kami liburan bareng berempat. Sedangkan Bromo menjadi saksi betapa kuat fisik dua orang perempuan yang turun ke lapangan mencari berita sejak kemunculan film Pengantin Remadja. Menelusuri jalan menanjak dan berpasir tanpa menunggangi kuda yang bisa mereka sewa jika mau, lalu berhasil menaiki satu per satu anak tangga hingga ke puncak gunung adalah bukti tua hanya luarnya saja. Yang bikin saya tambah takjub, salah satu dari dua orang perempuan itu ada yang sakit. Rupanya, liburan kemarin membuat dia lupa akan penyakitnya.

Liburan dadakan empat hari empat malam di pertengahan Mei 2015 bermula dari kegelisahan Mbak Ana yang harus memenuhi undangan simposium salah satu produsen obat di Malang seorang diri.  “Coba kalau kalian diundang juga, kita bisa extend ke Bromo. Gw lihat di Twitter, ada tempat sewa jeep murah. Seru deh pasti kalau Warkesnyir ikut semua, bisa kita sewa satu mobil.” kata Beliau ke saya di dalam taksi menuju ke kantor masing-masing usai menghadiri seminar kesehatan.

Siapa coba yang nggak mau liburan? Apalagi liburan bareng sahabat. Namun,  berhubung sebagian Warkesnyir alias wartawan kesehatan (doyan) nyinyir tidak lagi di desk Kesehatan, dan kebanyakan adalah jurnalis media online, tentu waktu liburnya berbeda. Jika jurnalis cetak macam Mbak Ana, Rendra, Mbak Lilis, Nida, dan Qalbi bisa leyeh-leyeh di tanggal marah, saya, Uno, Helmi, Fitri justru merasakan hal sebaliknya. Ketika mereka leyeh-leyeh di rumah, tidak mandi seharian, dan marathon DVD Korea, kami malah berkutat dengan kerjaan.

Mbak Ana terus mengajak yang lain untuk liburan di Malang dan Bromo. Baginya, tak ada usaha yang sia-sia. Ajak saja dulu, bakal ada yang mau ikut atau tidak itu urusan belakang. Dari delapan anggota yang tersisa, hanya dua orang yang menjawab mau. Sisanya, menolak dengan alasannya masing-masing. Aku piket, istriku nggak bisa ditinggal, sudah ada janji sama yang lain, dan ada yang sudah keburu bikin janji wawancara di hari Sabtu. Sedangkan saya masih labil. “Gw mau, deh. Sepertinya gw bisa izin, mengingat kemarin-kemarin gw muluk yang piket,” kata Saya sok yakin.

Rupanya, bos memberi izin. Kali itu giliran Dikta yang piket. Dikta, personel termuda di tim desk Kesehatan hanya bisa pasrah menerima surat cuti dari saya. Namun ada kendala lain, si Kawan harus diberitahu mengenai rencana liburan mendadak ini. “Boleh, asal kalau di-WhatsApp atau ditelepon tolong direspons,” jawab si Kawan singkat sambil menyantap ayam goreng di warung tenda favoritnya. Oke, berarti semua izin sudah didapat. Bahkan izin orangtua sudah saya kantongi sejak lama. Setelah jelas siapa saja yang pergi, masalah baru muncul. Drama sebenarnya baru saja di-mu-lai. H-7 keberangkatan belum tahu juga bakal naik apa ke Malang, bakal bermalam di mana, jauh tidak dari kantor tempat penyewaan jeep ke Bromo, dan harus bawa apa saja, habis dari Bromo bakal ke mana lagi. Doh! Kondisi itu terjadi sampai H-1 keberangkatan.

Naik bus lebih dari 17 jam

Sejak awal pesawat kami coret dari daftar moda transportasi yang akan kami pergunakan. Tidak lain karena harganya yang kebangetan. Maskapai kelas C saja harga sekali jalan tembus Rp 950.000 apalagi maskapai kelas A? Coret! Satu-satunya moda transportasi yang harga tiketnya sesuai kantong kami adalah kereta api. Kami hanya bisa gigit jari pas tahu semua tiket kereta api ludes terjual.

“Kita naik bus aja. Pas berempat. Dua-dua duduknya,” saran Rendra. “Bus? Ogah. Sempit. Kaki gw nggak leluasa bergerak,” jawab saya menolak. “Kalian cari bus yang kelas eksekutif. Harganya juga nggak mahal. Paling sekitar Rp 400 ribuan. Yang tempat kapasitasnya Cuma 25 orang. Luas,” kata Mbak Ana.

Setelah membaca banyak review para pengguna bus, pilihan jatuh ke Malino Putra. Dari 100 komentar yang ada, hampir sembilan puluh lima persen berpendapat bus ini yang paling top. “Ibu Ane itu hampir dua minggu sekali melakukan perjalanan Malang-Jakarta-Malang menggunakan bus Malino Putra. Kata dia supir bus ini bawanya sangat hati-hati. Dapat makan pula. Busnya juga nyaman,” tulis salah satu akun yang membuat kami, terutama saya, semakin yakin menggunakan bus ini.

Melakukan perjalanan jauh menggunakan bus adalah pengalaman pertama saya. Dulu pernah naik bus dari Medan ke Aceh, tapi masih kecil banget. Jadi lupa sensasinya. Petugas loket sudah memberitahu kalau perjalanan menggunakan bus Malino Putra memakan waktu selama 19 jam. Itu pun kalau di beberapa kota tidak macet. Dengan bus senyaman itu, tentu bukan sebuah masalah besar buat saya. Kalau ngantuk ya tinggal tidur lagi. Kalau mau ngobrol ada temannya. Kalau capai melakukan semuanya, saya pilih baca e-book yang dibeli menggunakan pulsa Indosat. Beres!

Bergerak dari terminal Rawamangun sekitar Rabu pukul 03:30 sore, tiba di terminal kota Malang pada Kamis pukul 12:30 siang. “Kalau naik pesawat, kita sudah sampai di Amerika kali, ya,” kata saya ke mereka.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fake panerai watches replica montblanc replica montblanc watches

best replica watches